Sebenarnya banyak terdapat pebedaan tentang asal usul dari Siti Jenar, akan tetapi yang paling banyak ditulis ialah Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1426 M di Pakuwuan, Caruban, pusat kota Caruban Larang waktu itu, yang sekarang lebih dikenal sebagai Astana Japura, sebelah tenggara Kota Cirebon. Suatu lingkungan yang terdapat berbagai macam etnis masyarakat, berbagai macam bahasanya dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai macam suku.
Sebelum kelahiran Siti Jenar terdapat sedikit cerita tentang keadaan keluarganya kala itu. Ayah Siti Jenar seorang pendeta Hindu yang memerintah Caruban —Cirebon sekarang— yang bernama Resi Bungsu. Resi Bungsu kala itu resah, meski dia telah dilengkapi dengan kekayaan dan kedudukan akan tetapi hal tersebut tidaklah berarti jika dia tidak mempunyai keturunan. Siang malam dia mengucapakan do’anya kepa Sang Hyang Widi agar keinginannya dikabulkan.
Singkatnya Resi Bungsu pergi kesuatu tempat untuk melakukan semedi empat puluh hari empat puluh malam di sebuah sebuah bukit yang di tepi danau yang airnya bening dan didalamnya terdapat banyak ikan. Setelah malam ke empat puluh sang Resi mendapatkan bisikan gaib —ilham— yang berisikan kalau dia ingin memiliki seorang putra maka bawalah ikan yang ada didepannya dan berikan pada istrinya untuk dimakan. Setelah itu Resi Bungsu kembali ke istana sembari membawa ikan tersebut untuk istrinya.
Sesampainya ia di istana, ia memberikan ikan yang dibawanya dan juga menceritakan kejadian yang ia alami selama ia semedi di danau tersebut. Kemudian setiap hari sang Resi pergi ke danau itu untuk mengambil ikan untuk diberikan pada istrinya untuk makanannya setiap hari. Setelah hampir empat puluh hari istrinya selalu memakan ikan yang ia ambil dari danau tersebut, terjadi perubahan pada badan istrinya. Alhasil istrinya pun hamil.
Setelah selama sembilan bulan kehamilan istrinya lahirlah seorang bayi laki-laki. Dengan perasaan yang berbunga-bunga bayi itu di timang dan dinyanyikan dengan tembang-tembang yang mengandung harapan di masa depan. Bayi itu diberi nama Ali Hasan. Kenapa bayi itu diberi nama yang kearab-araban, padahal Resi Bungsu kala itu beragama Hindu. Hal tersebut tidak ada yang tahu, dan merupakan sebuah misteri. Seperti pemiliknya yang nantinya juga memiliki berjuta misteri.
Setiap ajaran agama selalu memiliki dua sisi, yaitu sisi esoteris dan sisi eksoteris. Esoteris melambangkan sisi jiwa dan eksoteris mengibaratkan raga. Keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam bahasa agama, sisi esoteris di ibaratkan sebagai hakikat, sedangkan eksoteris merupakan gambaran dari syari’at. Sisi ajaran hakikat lebih banyak mengupas tentang hubungan moral antara manusia dengan dirinya sendiri, sesama, makhluk lain, alam semesta dan Allah. Sedangkan sisi syari’at lebih mengedepankan segi doktrin, ucapan, ritual, simbol, aturan, dan praktik formal keagamman yang bersifat luar.
Siti Jenar pada awal mulanya diberi tugas para dewan wali untuk mengajarkan sahadat dan tauhid pada masyarakat awam. Tetapi seringkali prilaku Siti Jenar berbeda dari wali lainnya. Pengaruh ilmu tasawuf yang ia pelajari dari Baghdad begitu kuat sehingga ia tidak begitu tertarik dengan ilmu syari’at. Ia lebih mendekatkan pada ilmu hakikat. Siti Jenar selalu menggali hakikat kebenaran, hakikat diri sebagai manusia serta hakikat ketuhanan. Ibadah syari’at baginya tidaklah cukup untuk mencapai Allah. Karena itu manusia memerlukan tasawuf untuk bisa sampai pada Allah.
Banyak orang yang secara lahiriah tampak khusuk shalatnya —sebagai contoh kecil. Bibirnya sibuk mengucapkan zikir dan doa-doa, namun hatinya berkeliaran dalam urusan duniawi mereka. Islam yang demikian ini ibarat kelapa, mereka hanya makan serabutnya. Padahal yang paling nikmat adalah buah kelapa dan air kelapanya. Mereka sembahyang lima waktu sebatas lahiriah saja. Tidak berpengaruh sama sekali kepada akal budinya. Padahal sembahyang itu diharapkan dapat mencegah keji dan munkar namun mereka tak mampu melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalaupun hakikat shalatnya itu membekas pada budinya itupun hanya sedikit. Buat apa sembahyang lima kali jika perangainya buruk, masih suka mencuri dan berbohong. Untuk apa bibir lelah berzikir menyebut asma Allah, jika masih berwatak suka mengingkari asma. Kadang-kadang pula mereka berharap pahala. Shalatnya saja belum tentu dihargai oleh Allah, tetapi buru-buru meminta balasan, bukankah hal tersebut aneh sekali.
Hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa amal hamba yang pertama kali diperhitungkan adalah sembahyang. Jika sembahyangnya baik, maka semua dianggap baik. Tidak boleh dipahami secara dangkal makna dari hadits tersebut. Hadits itu mengandung logika sebagai berikut, Orang yang tekun mengerjakan sembahyang dengan sempurna, maka perilaku, budi pekerti dan kalbunya juga harus terpengaruh menjadi baik. Sebab sembahyang yang dilakukan dengan jiwa yang bersih akan berpengaruh pula bagi cabang kehidupan lainnya.
Lebih lanjut Syeh Siti Jenar mengatakan; sebaliknya hadits itu tidak berlaku bagi orang yang tekun mengerjakan sembahyang tetapi hatinya masih kotor, tersimpan keinginan-keinginan nafsu misalnya ingin dipuji orang lain, terdapat ujub dan sombong, serta budinya menyimpang dan menabrak tatanan yang dilarang. Sedangkan shalat orang tersebut tidaklah menyentuh hatinya. Meskipun berlama-lama merunduk di masjid, namun masih mencintai duniawi. Sembahyang yang pakaiannya kedombrangan, merunduk di masjid berlama-lama sampai lupa anak istri. Sedangkan ia masih menyintai duniawi dan mengumbar nafsu manusiawinya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, ia seringkali menyusahkan orang lain. Maka orang yang demikian itu tidak terpengaruh oleh sembahyang yang dilakukan. Biasanya orang seperti itu sibuk menghitung pahala mereka. Dia sangat keliru dan bodoh. Pahala yang masih jauh tetapi diperhitungkan. Sungguh, sedikit pun tak akan dapat dicapainya.
Ajaran Syekh Siti Jenar dikenal sebagai ajaran ilmu kebatinan, yakni suatu ajaran yang menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah yang dapat dilihat dengan kasat mata. Intinya ialah konsep tujuan hidup. Titik akhir dari ajaran Siti Jenar ialah tercapainya kesatuan antara roh manusia dengan Zat Allah. Paham inilah yang mirip dengan ajaran zuhud para wali. Zuhud banyak terdapat dalam dunia tasawuf. Mereka merupakan orang-orang yang menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan yang sifatnya duniawi. Sebab mereka mempunyai tujuan hidup yang mereka anggap lebih utama, yakni ingin mencapai puncak kehidupan yakni kesucian jiwa atau roh.
Membicarakan Siti Jenar sebagai penggerak sejarah maupun ajaran sufisme dalam khazanah Islam akan selalu membangkitkan perbedaan pandangan yang tajam. Perbedaan tersebut berkaitan dengan hadirnya dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia dan meteri ajarannya yang mengandung sisi kefilsafatan dan dihidupkan dalam praktek sufi. Untuk membicarakan ajaran yang dibawa Siti Jenar secara tuntas, haruslah dilakukan telaan yang menyeluruh —dalam konteks sejarah— tentang sejarah Islam di Indonesia. Demikian pula harus dikaitkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Sebab paling tidak ajaran yang dibawa oleh Siti Jenar menyakut bidang filsafat pula, meskipun hanya khusus dalam bidang tasawuf saja. Sedangkan ajaran Siti Jenar kenapa dianggap sesat kala itu tidak lepas dari polemic politik yang terjadi dalam pergulatan polotik yang dialami Islam di Indonesia.
Inti sebenarnya dari ajaran Syeh Siti Jenar adalah pencapaian spiritualitas yang tinggi dalam penyatuan antara makhluk dengan Sang Pencipta, yang lebih populer disebut sebagai Manunggaling Kawula Gusti. Bila ditilik secara menyeluruh, ajaran yang disebarkan Siti Jenar adalah meliputi pengetahuan tentang kehidupan dan penguasaan hidup, tentang kematian dan tempat sesudah ajal, hidup kekal tak berakhir, dan tentang kedudukan Yang Maha Luhur. Paham yang hampir senada dengan falsafah Jawa kuno.
Makna Kehidupan dan Kematian
Syekh siti Jenar memandang hidup hakiki ialah hidup sesudah kematian. Pandangan hidup dan kesadaran keagamaan orang jawa juga lebih didasari hakekat hidup abadi yang baru dimulai sesuadah kematian tersebut. Dan dari sini pula seluruh pandangan wali yang dituduh murtad ini didasari hakikat hidup yang baru dimulai ketika seseorang meninggal dunia tersebut. Kesempurnaan hidup dalam keseluruhan aliran pemikiran Islam bukan baru akan dicapai setelah mati, akan tetapi, kesempurnaan hidup bahkan harus didasari makna hidup sesudak kematian. Di sinilah sebenarnya inti dari ajaran Islam baik dari kalangan para sufi dan juga para ahli syari'at. hal ini menunjukkan bahwa ajaran Siti Jenar bukanlah suatu hal yang asing dalam kajian para pemeluk Islam dan juga kesadaran kejawen. Yang menjadi titik persoalan sekarang pada fungsi nilai-nilai hakiki dari kehidupan abadi tersebut dalam tindakan dan gerak hidup di dunia ini.
Dalam kasus yang terjadi sekarang banyak terjadi dalam dunia politik yang menggunakan otoritas yang dimiliki oleh Allah, mereka menggunakan nama Allah untuk melakukan penekanan pada rakyat agar rakyat bisa menerima hal tersebut. Selanjutnya mereka dengan sesuka hatinya memakan dana rakyat atau yang sering kita kenal sebagai tindak korupsi. Kecenderungan seperti itu dikatakan Siti Jenar sebagai akibat dari kesalahan manusia dalam memaknai hakikat hidup yang sebenarnya. Manusia telah melakukan kesalahan besar dalam memahami Allah dan ajaran-Nya yang menggunakan pancaindra yang sifatnya kotor, najis dan palsu. Untuk hal itu manusia seharusnya harus tahu bagaimana memahami Allah yang sebenarnya.
Konsep kehidupan yang semacam itu sebenarnya tidak lari dari kenyataan yang mencoba untuk menolak kehidupan, tetapi justru masuk dan melebur kedalam kehidupan, mengrai misteri, untuk kemudian mampu melihatnya secara tembus pandang sehingga mampu melampaui ilusinya. Hal tersebut didasari al-Qur’an yang tertera dalam surat al-Hadid 20
Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
dan al-An’am ayat 32.
Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya.
Kematian bukanlah akhir hari kehidupan manusia, malah sebaliknya kematian merupakan awal sebenarnya kehidupan manusia. Hidup duniawi bagi Siti Jenar hanyalah bayangan palsu dari hidup yang sesungguhnya yang akan dijalani manusia setelah kematian. Kematian merupakan kehidupan yang sungguh nyata dan abadi. Dalam alam kepalsuan manusia dikendalikan oleh jasad yang akan membusuk, hancur dan musnah. Pancaindra hanya melahirkan pengetahuan yang palsu. Pengetahuan seperti itulah yang membawa manusia pada kesesatan di dunia yang mengakibatkan kesengsaraan yang berbuah neraka.
Konsep Tuhan yang benar menurut Siti Jenar jika bersumber dari hati yang tulus dan jujur. Tuhan tidak dapat dilukiskan dengan gambaran apapun. Tuhan adalah segalanya dan sekaligus sebagai bukan yang bukan. Tuhan ada disini dan disana, sekarang dan nanti, meliputi segala tempat, ruang dan waktu.
Menurutnya hanya manusia yang telah bebas dari kepentingan pribadi, hawa nafsu serta kekuasaan duniawi yang memiliki peluang untuk menyatu dengan Allah. Maka bagi orang seperti ini sebutan untuk Allah tidaklah penting lagi, yang terpenting adalah kesadaran akan keberadaan Zat Allah yang ada pada setiap langkah dan gerak hidupnya.
Hal yang paling penting bagi manusia ialah melakukan langkah-langkah yang bertujuan untuk membebaskan diri dari segala macam nafsu dan kepentingan yang bersifat duniawi. Kebebasan manusia dari belenggu dunia bukanlah untuk menjauhi segala macam kehidupan dunia tersebut, disitu dimaksudkan agar manusia mampu untuk menyikapi bahwa dunia yang penuh dengan kepalsuan ini dan jga bisa memahami hakikat hidup yang sebenarnya yang abadi dan kekal selamanya. Hal tersebut ditujukan agar manusia tidak menjadi budak harta maupun kekuasaan agar manusia mencapai pada tinggakan tertinggi.
Sebenarnya Tuhan itu sederhana, tetapi pikiran manusia yang mengakibatkan Tuahn itu rumit. Hal yang diperlukan manusia hanyalah memahami dirinya sendiri, dan hal tersebut sekaligus memahami Tuhan. Jika manusia tidak mampu memahami dirinya sendiri sekaligus memahami Tuhan, maka saat itulah kondisi batin manusia terpecah belah dan mengalami ketidakutuhan. Manusia menjadi terputus dari kehidupannya dan akan kehilangan arah.
Dalam berbagai literatur mengatakan bahwa Syekh Siti Jenar merupakan anak seorang pendeta yang memerintah di Caruban, dia bernama Resi Bungsu. Nama aslinya adalah Ali Hasan. Mengenai asal usul nama tersebut merupakan misteri yang belum dapat dilacak kebenarannya.
Ilmu tasawuf yang ia pelajari dari Baghdad begitu kuat Pengaruhnya sehingga ia tidak begitu tertarik dengan ilmu syari’at. Ia lebih mendekatkan pada ilmu hakikat. Siti Jenar selalu menggali hakikat kebenaran, hakikat diri sebagai manusia serta hakikat ketuhanan. Ibadah syari’at baginya tidaklah cukup untuk mencapai Allah. Karena itu manusia memerlukan tasawuf untuk bisa sampai pada Allah.
Manunggaling Kawula Gusti merupakan ajaran dari Siti Jenar, yang didalamnya membahas tentang konsepsi ketuhanan, kemanusian, kehidupan, kematian dan kekekalan hidup. Manusia harus bisa memahami diri sendiri sekaligus memahami Allah. Kehidupan yang sebenarnya bermula dari kematian. Kematian merupakan perjalanan awal manusia menjalani hidup yang hakiki. Kehidupan yang kekal akan didapat manusia jika ia mampu mengenali dirinya sendiri, sehingga ia mampu menytu dengan Alaah sebagai otoritas yang absolut.
DAFTAR PUSTAKA
Alqalami, Abu Fajar. 2005. Legenda Siti Jenar. Surabaya: Pustaka Media.
Mu’tasim, Radjasa dan Abdul Munir Mulkan. 1998. Bisnis Kaum Sufi; Studi Tarekat dalam Masyarakat Industri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mulkan, Abdul Munir. 2005. Makrifat Siti Jenar, Teologi Pinggiran dalam Kehidupan Wong Cilik. Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu.
Mulkhan, Abdul Munir. 2004. Makrifat Burung Surga dan Ilmu Kesampurnan Syekh Siti Jenar. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Sabtu, 23 Mei 2015
Selasa, 11 Desember 2012
Bertasawuf dalam Kehidupan Modern
1. Pemahaman Tasawuf
Sebelum kita mengkaji tentang
bertasawuf dalam kehidupan modern, sebaiknya kita harus memahami arti dari
tasawuf. Dengan memahami ajaran ilmu tasawuf, kita mampu mengetahui hakekat
kehidupan.
Bertasawuf bukanlah sesuatu yang
tabu untuk dilakukan, sebab selama ini masyarakat menganggap ilmu tasawuf hanya
dipakai oleh orang-orang pilihan. Masyarakat menganggap tasawuf tidak berguna
untuk kehidupannya, karena tasawuf yang mereka artikan adalah menjauhi dunia
untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, padahal dunia memang dibutuhkan oleh orang
bertaswuf sebagai jembatan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.
Di dalam kehidupan masyarakat
modern, terutama masyarakat perkotaan saat ini, bertasawuf sebenarnya
diperlukan oleh mereka, hanya saja mereka menganggap tasawuf tidak penting
dalam hidupnya. Pentingnya tasawuf dalam kehidupan masyarakat adalah sebagai
penyeimbang kehidupan. Karena berdasarkan realita yang ada, kehidupan masyarakat
perkotaan sudah diwarnai oleh bermacam-macam perilaku yang diakibatkan oleh
penyalahgunaan kemajuan teknologi dan kesibukan aktifitas, sehingga bertasawuf
dianggap tidak perlu karena tidak membawa keuntungan dalam kehidupan mereka.
Bertasawuf dalam kehidupan modern
tidak sama dengan bertasawuf dalam kehidupan sebelum modern, hal ini terjadi
karena kemajuan teknologi yang begitu cepat. Bertasawuf harus disesuaikan
dengan kemajuan zaman, karena kemajuan zaman berhubungan dengan berlangsungnya
kehidupan bertasawuf.
Bertasawuf bukanlah suatu tuntutan,
melainkan kebutuhan yang dijalankan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.
Kebutuhan inilah yang belum dirasakan oleh masyarakat modern. Masyarakat modern
menganggap kesuksesan yang diraihnya adalah upaya dari kerja keras yang dia
lakukan sendiri. Padahal jika tanpa ada campur tangan Tuhan, pasti usaha juga
tidak akan sukses. Kekeringan aqidah inilah yang menyebabkan tasawuf sebagai
cara pendekatan diri kepada Tuhan menjadi sulit tersampaikan atau bahkan tersingkirkan.
2. Pengertian Tasawuf
Setelah kita memahami maksud dari
tasawuf, maka kita harus tahu bagaimana pengertian tentang tasawuf. Pengertian
tentang Tasawuf banyak diartikan oleh para ahli keagamaan islam sebagai cara
menuju Tuhan dengan membersihkan jiwa. Dan orang yang melakukan tasawuf disebut
dengan SHUFI.
Menurut ABUL QASIM QUSYAIRI Tasawuf
adalah menerapkan secara konsekuen ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW,
berjuang menekan hawa nafsu, menjauhi perbuatan Bid’ah, dan mengikuti syariat
ibadah.
Menurut AL GHAZALI Tasawuf adalah
memakan makanan yang halal, mengikuti akhlak yang baik, perbuatan dan perintah
Rasul yang telah tercantum dalam Sunnahnya.
Menurut ABU BAKAR ACEH Tasawuf
adalah suatu ilmu pengetahuan untuk mencari kecintaan kesempurnaan kerohanian.
Menurut SAHL ABDULLAH AT-TUSTURY
Shufi—orang yang bertasawuf adalah orang yang membersihkan dirinya dari
kerusakan budi, selalu dalam renungan yang paling dalam dan menilai budi mulia
itu sebagai harta yang paling berharga dari tumpukan emas dan permata.
Menurut ABDULLAH WAHHAB SYA’RANI
Ilmu Tasawuf adalah suatu Ilmu Pengetahuan yang telah dilimpahkan ke dalam hati
para Aulia, di saat hati mereka diterang oleh Cahaya Al-Qur’an dan Sunnah Nabi
SAW.
Sebenarnya masih banyak lagi
pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tentang tasawuf. Dan dapatlah
diambil kesimpulan bahwa Tasawuf adalah suatu jalan untuk mendekatkan diri
kepada Allah hanya untuk mencari keridhaan dari Allah SWT dengan cara
meninggalkan nafsu kediriannya dan menghapus tercela dengan bimbingan
cahaya-cahaya dan pengetahuan.
3. Pentingnya Mengajarkan Tasawuf Pada Anak-anak Usia Dini
Jika melihat pada cermin realita
kehidupan modern yang tidak sesuai dengan kehidupan islami, maka saya berpikir
mengapa ilmu tentang tasawuf tidak diajarkan sejak usia dini? Dilihat dari
kondisi sekarang, manusia cenderung berpikir cepat, begitupun dengan anak-anak.
Anak-anak pada usia sekitar 10 tahun mulai dapat berpikir secara kritis dan
emosional.
Karena sejak kecil anak-anak sudah
didoktrin mengenai agama, maka semakin tumbuh besar mereka mulai mampu berpikir
tentang kebenaran dari doktrin tersebut. Karena hal itu pula mereka mulai
bertanya-tanya tentang “Apa itu Tuhan?”, “Di mana Tuhan itu?”, “Sejak kapan
Tuhan itu ada?”. Tentu jawaban yang harus sesuai dengan pertanyaan seperti itu
sulit untuk diungkapkan. Namun, bagaimanapun juga anak-anak harus diberikan
pemahaman tentang hakekat keTuhanan.
Ketika adik-adik saya bertanya,
“Mas, apa itu Tuhan?” maka dengan keterkejutan, saya menjawab, “Tuhan itu wujud
yang harus disembah, mengapa disembah? Karena hanya Dia yang memiliki kekuatan
melebihi Power Rangers.” Itu hanyalah refleksi diri saya yang terkejut atas
pertanyaan itu, dari itu saya berpikir ternyata anak sekecil itu mulai belajar
memahami Tuhan. Mengapa tidak sekalian anak-anak mulai diajarkan ilmu tentang
ketasawufan sejak usia dini? Pada saat itu saya merasa mungkin belum saatnya
untuk diajarkan, biarlah nilai dasar tentang agama saja yang harus ditingkatkan
pemahamannya.
Ketika saya melihat pada diri mereka
tidak ada unsur ketidakcerdasan pada mereka, bahkan sebaliknya, mereka adalah
anak-anak yang pandai. Saya hanya menduga bahwa mereka hanya belum mempunyai
kesadaran (belum merasa perlu) akan mendapatkan pelajaran ini. Namun, saya
sadar bahwa tidak harus dengan paksaan mereka bisa memahami agama, biarlah
dengan kehendak dari dirinya. Mereka akan tahu hakekat Tuhan tanpa paksaan
karena hanya dengan itulah mereka merasakan kebebasan memahami agama.
4. Pentingnya Anak Muda Mengenal Tasawuf
Setelah mamberikan sedikit pemahaman
tentang dunia tasawuf kepada anak-anak, kalangan yang harus dikenalkan dengan
tasawuf adalah kalangan anak muda dan remaja. Pada dasarnya anak muda dan
remaja adalah sosok yang mencari jati diri dan memiliki jiwa yang labil,
sehingga kehidupan di kalangan remaja sering dihiasi dengan kehidupan yang
bersifat negatif.
Untuk mencegah sesuatu yang bersifat
negatif pada remaja, sebaiknya pengenalan tentang tasawuf harus dilakukan.
Dengan memperkenalkan tasawuf, diharapkan remaja bisa memiliki jiwa yang
tangguh, kuat, dan memiliki rasa tanggung jawab tinggi.
Modernisasi zaman dan teknologi
menyebabkan anak muda masa kini tidak mau dianggap ketinggalan zaman, sehingga
mereka mempunyai rasa “gengsi” jika tidak bisa atau tidak tahu kemajuan zaman.
Dalam hakekatnya, gengsi tidak berlaku pada tasawuf. Justru dengan bertasawuf
kita tidak diajarkan untuk gengsi karena tasawuf mengajarkan tentang
kesederhanaan dan hidup dengan keadaan apa adanya dan bukan di ada-adakan untuk
ada.
Dan jika anak muda sekarang dibekali
dengan tasawuf, maka tasawuf itu akan selalu berbuat yang utama bagi seorang
hamba dalam setiap waktunya. Oleh karena itu, tasawuf yang melekat dalam diri
anak muda akan mengarahkan pada insan yang bersih dari kekeruhan, penuh denga
fikiran (kearifan) menganggap sama antar emas dan lumpur, selalu beribadah
hanya kepada Allah.
Fungsi tasawuf dalam hidup adalah
menjadikan manusia berkepribadian yang sholeh, berperilaku baik dan mulia,
ibadahnya berkualitas. Mereka diharuskan untuk hidup sederhana, jujur,
istiqomah, dan tawadhu.
Dalam kehidupan modern khususnya
anak muda, tasawuf menjadi obat yang mengatasi krisis kerohanian manusia modern
yang telah lepas dari pusat dirinya, sehingga dia tidak tahu lagi siapa
dirinya, arti,dan tujuan dari hidupnya.
5. Menapak Jejak Tasawuf
Seseorang bisa dikatakan bertasawuf
jika mengetahui langkah-langkah menjadi seorang Shufi. Dan berikut merupakan
langkah-langkah yang bisa dijadikan pijakan untuk mencapai puncak tasawuf, di
antaranya:
Tobat adalah
koreksi diri dan menyadari akan segala kekurangan dan cacatnya. Tobat adalah
langkah awal untuk membersihkan diri, baik lahir maupun batin. Dengan
pembersihan diri dari segala kesalahan dan sifat-sifat tercela, maka
hijab-hijab yang membatasi diri dengan Khalik akan segera terkuak.
Qana’ah
adalah
menerima dengan apa adanya pemberian Allah. Qana’ah juga merupakan dasar hidup,
menerbitkan kesungguhan hidup, menimbulkan energi kerja untuk mencari rizqi,
jadi percaya dan ikhtiar akan takdir yang diperoleh sebagai hasil yang
maksimal. Karena pada hakekatnya menurut pandangan islam, orang kaya itu
bukanlah kaya harta, melainkan kaya akan hatinya juga, disertai juga dengan
sifat qana’ah yang sudah menerima apa adanya atas pemberian Allah.
Zuhud
dalam
kalangan shufi, sangat diutamakan dan benar-benar ditampakkan dalam sikap dan
tingkah lakunya para shufi dalam kehidupan sehari-harinya. Pada hakekatnya,
Zuhud adalah membelakangkan semua mata benda dunia. Dengan kata lain zuhud
adalah tidak terlalu menghiraukan dunia.
Sabar
adalah
sifat yang membedakan manusia dengan hewan dalam hal menundukkan hawa nafsu.
Sedangkan dorongan hawa nafsu adalah tuntunan syahwat dan keinginan yang meminta
untuk dilaksanakan. Sabar yang dimaksudkan dalam ajaran shufi adalah sifat yang
dikehendaki oleh Allah SWT, dengan jalan meninggalkan ucapan yang bisa membawa
adanya keluh kesah dan keluh kesah itupun lalu dibawanya kepada Ibadah.
Tawakal merupakan
keteguhan hati dalam menyerahkan urusannya kepada orang lain, dan keyakinan
yang demikian itu terjadi sesudah timbul rasa percaya kepada orang yang
diserahi urusan tadi. Bahwa ia betul-betul mempunyai sifat kasih sayang
terhadap orang yang memberikan perwakilan. Dan ia dapat membimbing terhadap
orang yang memberikan perwakilan.
Pada hakekatnya, tawakal adalah
menyerahkan diri, berserah diri kepada Allah setelah berusaha sekuat tenaga dan
fikiran dalam mencapai sesuatu tujuan. Jadi, apabila kita mempunyai tujuan,
lalu berusaha dengan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan menurut aturan dan
syarat-syarat yang diperlukan, maka hasilnya tinggal menunggu keputusan dari
Allah.
Ikhlas merupakan
syarat utama dalam setiap amal Ibadah Umat Islam agar amalnya diterima oleh
Allah. Sebab, itu merupakan upaya hamba Allah untuk menunjukkan segala perhatiannya,
segala gerak-geriknya, amal perbuatannya, baik lahir maupun batin yang
semata-mata hanya ditujukan kepada Allah.
Syukur
adalah
mengenal pemberi nikmat (Allah) dengan menyatakan (Ikrar) pada Tuhannya. Nikmat
yang telah diberikan Allah kepada kita terbagi antara, nikmatul ijad dan nikmat
ciptaan, artinya Ia telah jadikan dan menciptakan yang dahulunya tidak ada. Dan
sesudah ada, Allah telah mengirimnya dengan nikmatul Imdad, yaitu yang
menyebabkan manusia akan tetap ada, ia akan kembali dan tidak akan ada lagi,
seperti makanan dan pakaian.
Ridho
oleh
kalangan shufi diibaratkan pintu Allah yang besar, orang-orang yang telah
memuliakan ridho, maka dia akan dipertemukan
dengan kecintaan yang paling penuh (utama) dan dimuliakan dengan
pendekatan yang paling tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Misriy, Badruttaman Basya. Tasawwuf Anak Muda, Jakarta: Pustaka
Group, 2009.
Al-Kaaf, Abdullah Zakiy. Membentuk Akhlak Mempersiapkan Generasi
Islami, Bandung: Pustaka Setia, 2001.
Bahreisy, Salim. AL-HIKAM PENDEKATAN ABDI PADA KHALIQNYA, Surabaya:
Balai Buku, 1984.
Hidajati, Arini. Anak, Tuhan dan Agama, Yogyakarta: Putra
Langit, 1999.
Mustofa, Agus. Bersatu dengan ALLAH, Surabaya: Padma Press, 2010.
Mz, Labib. MEMAHAMI AJARAN TASHOWUF, Surabaya: Tiga Dua, 2000.
Nata, Abuddin. AKHLAK TASHAWUF, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.
Yeljen, Miqdad. Globalitas Persoalan Manusia Modern, Riyadh: Risalah Gusti, 1989.
Jumat, 09 November 2012
Tauhid
1.
SYAHADAT TAUHID
Syahadat
pada dasarnya adalah menyatakan kesaksian tiada Tuhan selain Allah dan yang
dikenal sebagai syahadat Tauhid, sedangkan syahadat rasul adalah meyakini
Muhammad sebagai Rasul (karena Injil turun terlebih dahulu sebelum kelahiran Muhammad
saw) tentunya yang ada hanyalah syahadat Tauhid, perhatikan ayat Alkitab
berikut ini:
“Tuhanlah
Allah, tidak ada yang lain, kecuali Dia (Ulangan 4:35).
“Bukankah
Aku, Tuhan? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain padaKu! Allah yang adil
dan Juru selamat, tidak ada yang lain kecuali Aku (Yeyasa 45:21)
Pada
perjanjian baru disebutkan:
”Dengarlah,
hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan Itu Esa (Markus 12: 29)”
Dalam
al-qur’an disebutkan:
“Sesungguhnya
Allah. Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”.
(Q.S. 3, Ali Imran: 51)
“Aku
(Isa Al Masih/ Yesus) tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang
Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku
dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada
di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku. Engkau-lah yang mengawasi
mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu”. (Q.S. 5, Al
Ma’idah: 117)
“Dengarlah,
hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! (Ulangan 6: 4).
“Musa
menjawab, “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah,
padahal Dia-lah yang telah melebihkan kamu atas segala umat (Pen: Bani Israil
yang telah diberi rahmad oleh Allah dan dilebihkannya dari segala ummat ialah
nenek moyang mereka yang berada semasa Nabi Musa as”. (Q.S. 7, Al A’raaf: 140)
“Maka
ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan mohonlah
ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu’min, laki-laki dan perempuan.
Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu”. (Q.S. 47,
Muhammad: 19)
Dan perhatikan Hadits Rasul SAW berikut:
[75]
“Dari Abu Hurairah r.a. Rasullulah bersabda: “Orang yang beruntung mendapat
pertolonganku (syafaat) di hari kiamat, ialah orang yang mengucapkan Laa ilaaha
illallaah, benar-benar ikhlas dari hati sanubari dan seluruh jiwanya” (HR.
Bukhari)”
“Selalulah
kamu memperbaharui iman kamu. Para sahabat bertanya: “Bangaimanakah caranya
kami memperbarui iman kami yaa Rasulullah?”, Jawab Rasululah: “Perbanyaklah
(mendakwahkan) ucapan Laa ilaaha illallaah (Tiada Tuhan Selain Allah)”. (HR
Ahmad dan Thabarany dari Abu Hurairah r.a.).
[250]
Bersabda Rasullualh saw: “Sesungguhnya Allah mengharamkan masuk neraka
orang-orang yang mengucapkan “La Illaahaillalah” dengan niat semata-mata karena
ingin keredaan Allah” (HR. Bukhari)
2.
SHALAT (SUJUD)
Shalat
sebenarnya adalah doa dan penghambaan makhluk kepada Tuhannya. Inti dari shalat
itu selain ruku adalah SUJUD menyembah Allah, jadi ibadah yang hakiki adalah
SUJUD (lihat tulisan saya sebelumnya Tidak Shalat/ Sujud = Kafir).
Perjanjian
Lama:
Masalah
sujud (shalat) dalam Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Baru banyak
disebutkan. Untuk itu coba renungkan ayat-ayat berikut ini:
“Orang
itu (Ramatain-Zofin) dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk SUJUD
MENYEMBAH dan mempersembahkan korban kepada Tuhan Semesta alam di Silo (I
Samuel 1: 3)”
“Ezra
(Pen: Islam nabi Uzair) berdoa dan mengaku dosa, sambil menangis dengan
BERSUJUD di depan rumah Allah (Ezra 10: 1)”
“..kemudian
SUJUDLAH Ia (Ayub) dan MENYEMBAH. (Ayub 1: 21)
“Keesokan
hari bangunlah mereka itu pagi-pagi (Pen: Subhuh?), lalu SUJUD MENYEMBAH di
hadapan Tuhan (I Samuel 1: 19)
“Lalu
BERLUTUTLAH orang itu dan SUJUD menyembah TUHAN, serta berkata: “Terpujilah
TUHAN, Allah tuanku Abraham,..” (Kejadian 24: 26)
“Aku
akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau
sangat banyak.” Lalu sujudlah Abram (Abraham), dan Allah berfirman kepadanya”
(KEJADIAN 17: 2 - 3)”
Kejadian
di atas terdapat pada masa Abraham (Ibrahim), sedangkan pada zaman Musa dapat
dilihat pada ayat berikut ini:
“Maka
pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud.
Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka” (BILANGAN 20: 6)
“Berfirmanlah
Ia (TUHAN Allah) kepada Musa: Naiklah menghadap TUHAN, Engkau dan Harun, Nadab
dan Abihu dan 70 orang tua-tua Israel dan SUJUDLAH kamu MENYEMBAH dari jauh
(Keluaran 24: 1 - 2)”
“Lalu
Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu,
sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” (Keluaran
3: 5)
“Segera
Musa BERLUTUT ke tanah, lalu SUJUD MENYEMBAH serta berkata: “Jika aku telah
mendapat kasih karunia di hadapan-Mu ya… Tuhan (Keluaran 34: 8)”
“Musa
dan Harun serta anak-anaknya membasuh tangan dan kaki mereka dengan air dari
dalamnya. Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan dan apabila mereka
datang mendekat kepada mezbah itu, maka mereka membasuh kaki dan tangan–seperti
yang diperintahkan TUHAN kepada Musa” (Keluaran 40: 31 - 32)
“Jawabnya:
“Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang.” Lalu
sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya:
“Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?” (YOSUA 5: 14)
“
Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia
masuk ke rumah TUHAN dan SUJUD MENYEMBAH” (Samuel II 12: 20)
“Kepunyaan-Nya
laut, Dia-lah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nya-lah yang membentuknya.
Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang
menjadikan kita” (MAZMUR 95: 5 - 6)”
Rabu, 07 November 2012
Etimologi Aksara Jawa
Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka Paku Buwana IX
Ajaran filsafat hidup berdasarkan aksara Jawa
itu sebagai berikut :
Ha-Na-Ca-Ra-Ka
berarti ada "utusan" yakni utusan hidup berupa nafas yang
berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang
mempercayakan, ada yang dipercaya, dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga
unsur itu adalah Tuhan, manusia, dan kewajiban manusia (sebagai ciptaan).
Da-Ta-Sa-Wa-La
berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data "saatnya (dipanggil)"
tidak boleh sawala "mengelak" manusia (dengan segala atributnya)
harus bersedia melaksanakan, menerima, dan menjalankan kehendak Tuhan.
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya
berarti menyatunya zat pemberi hidup (Khalik) dengan yang diberi hidup (makhluk).
Maksdunya Padha "sama” (sesuai, jumbuh, cocok) tunggal batin yang
tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu
"menang, unggul" sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan
"sekedar menang" atau menang tidak sportif.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang
diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia
harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk
mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.
HURUF BACA
Makna Huruf
Ha = Hana hurip wening suci - adanya hidup
adalah kehendak dari yang Maha Suci.
Na = Nur candra, gaib candra, warsitaning
candara - pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi.
Ca = Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi
- arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal.
Ra = Rasaingsun handulusih - rasa cinta
sejati muncul dari cinta kasih nurani.
Ka = Karsaningsun memayuhayuning bawana -
hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam.
Da = Dumadining dzat kang tanpa winangenan -
menerima hidup apa adanya.
Ta = Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa -
mendasar ,totalitas,satu visi, ketelitian dalam memandang hidup.
Sa = Sifat ingsun handulu sifatullah-
membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan.
Wa = Wujud hana tan kena kinira - ilmu
manusia hanya terbatas namun
implikasinya bisa tanpa batas.
La = Lir handaya paseban jati - mengalirkan
hidup semata pada tuntunan Illahi.
Pa = Papan kang tanpa kiblat - Hakekat Allah
yang ada disegala arah.
Dha = Dhuwur wekasane endek wiwitane - Untuk
bisa diatas tentu dimulai dari dasar.
Ja = Jumbuhing kawula lan Gusti -selalu
berusaha menyatu -memahami kehendak Nya.
Ya = Yakin marang samubarang tumindak
kang dumadi - yakin atas titah /kodrat
Illahi.
Nya = Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki
- memahami kodrat kehidupan.
Ma = Madep mantep manembah mring Ilahi - yakin/mantap
dalam menyembah Ilahi.
Ga = Guru sejati sing muruki - belajar pada
guru nurani.
Ba = Bayu sejati kang andalani -
menyelaraskan diri pada gerak alam.
Tha = Tukul saka niat - sesuatu harus dimulai
dan tumbuh dari niatan.
Nga = Ngracut busananing manungso - melepaskan
egoisme pribadi –manusia.
Adanya hidup
adalah kehendak dari yang Maha
Suci-pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi -satu arah dan
tujuan pada Yang Maha Tunggal - rasa
cinta sejati muncul dari cinta kasih
nurani - hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam - menerima hidup apa adanya -
mendasar ,totalitas,satu visi, ketelitian dalam memandang hidup - membentuk
kasih sayang seperti kasih Tuhan - ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas - mengalirkan
hidup semata pada tuntunan Illahi - Hakekat Allah yang ada disegala arah -
Untuk bisa diatas tentu dimulai dari
dasar -selalu berusaha menyatu -memahami
kehendak Nya - yakin atas titah /kodrat Illahi - memahami kodrat kehidupan
- yakin - mantap dalam menyembah Ilahi - belajar pada guru nurani -
menyelaraskan diri pada gerak alam - sesuatu harus dimulai - tumbuh dari niatan
- melepaskan egoisme pribadi -manusia.
Langganan:
Postingan (Atom)
